Coretan di kala sendiri

Ketika memulai menuliskan sesuatu ada begitu banyak kata dan ide yang berkecamuk dalam pikiran kita, sesuatu yang kadang tidak kita rencanakan akhirnya timbul dalam pikiran kita dan kita tuangkan dalam tulisan.
Saat kesendirian datang banyak cara yang orang lakukan untuk mencari kesenangan atau penghiburan tapi entah mengapa menulis dan mencurahkan apa yang ada dalam hati dan pikiran menjadi pilihan saya untuk melarikan diri dari kesepian.
Kesepian itu membuat jiwa menjadi merana tapi kadang kesepian dan kesendirian itu mengajarkan dan membuat kita sadar bahwa betapa pentingnya orang-orang yang ada di samping kita, kadang kesepian itu menyadarkan kita bahwa orang lain punya arti untuk hidup kita.
Memang menyakitkan saat kesendirian dan kesepian itu melanda, saat itu kita mulai mengoreksi diri kita mengapa kita kesepian dan sendirian??? Apakah tidak ada lagi yang peduli ataukah ada sikap kita yang membuat orang-orang disekitar kita menjahui kita???
Begitu banyak tanya yang harus kita jawab sendiri…

Hanya pengen nulis aja

Terkadang sesuatu yang kita rasakan berbeda dengan apa yang kita dapatkan dan terkadang apa yang kita pikirkan berbeda dengan apa yang kita lakukan dan bahkan apa yang kita liat berbeda dengan apa yang sebenarnya.
Apakah mata yang salah melihat atau otak yang salah berpikir atau kaki yang salah melangkah atau mungkin tangan yang salah mengerjakan???
Semua itu hanyalah pertanyaan dan realita yang harus kita jawab sendiri, bagaimanakah kita memanfaatkan semua panca indra kita dan organ tubuk kita.
Kadang aku berpikir orang lain begitu egois terhadap diriku tapi entah mengapa orang lain juga berkata bahwa aku begitu egois.
Setelah sejenak berpikir dan merenung ternyata benar juga kata orang aku begitu egois, keegoisanku telah merugikan orang lain, kadang aku bertanya haruskah aku menjauh dari orang-orang yanga aku sayang, sedangkan aku membutukan mereka dan mereka membutuhkan aku???
Dalam hatiku tersimpan keinginan yang besar untuk membahagiakan orang-orang yang aku sayangi, sekalipun kapan waktu itu datang aku tidak tau tapi aku bertekad membuat mereka bahagia, bahagia dalam ukuranku…aku berharap mereka bahagia dengan apa yang aku lakukan sekalipun ukuran bahagia yang aku pakai adalah ukuran bahagia menurut pandanganku.

Trima kasih untuk sahabat-sahabatku, trima kasih untuk kekasih hatiku, trima kasih untuk keluargaku dan terima kasih untuk Pencipta dan Penolongku… Maafkan semua salahku sahabatku, maafkan kesalahan dan keegoisanku kekasihku dan maafkan atas kekuranganku keluargaku.

TUKANG KAYU DAN RUMAHNYA

Seorang tukang kayu tua bermaksud pensiun dari pekerjaannya di sebuah perusahaan konstruksi real estate. Ia menyampaikan keinginannya tersebut pada pemilik perusahaan. Tentu saja, karena tak bekerja, ia akan kehilangan penghasilan bulanannya, tetapi keputusan itu sudah bulat. Ia merasa lelah. Ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian bersama istri dan keluarganya.

Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya. Ia lalu memohon pada tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk dirinya. Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu.
Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin segera berhenti. Hatinya tidak sepenuhnya dicurahkan. Dengan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu. Ia cuma menggunakan bahan-bahan sekedarnya. Akhirnya selesailah rumah yang diminta. Hasilnya bukanlah sebuah rumah baik. Sungguh sayang ia harus mengakhiri kariernya dengan prestasi yang tidak begitu mengagumkan.

Ketika pemilik perusahaan itu datang melihat rumah yang dimintanya, ia menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu. “Ini adalah rumahmu,” katanya, “hadiah dari kami.” Betapa terkejutnya si tukang kayu. Betapa malu dan menyesalnya. Seandainya saja ia mengetahui bahwa ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk dirinya sendiri, ia tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain sama sekali. Kini ia harus tinggal di sebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya sendiri.

Itulah yang terjadi pada kehidupan kita. Kadangkala, banyak dari kita yang membangun kehidupan dengan cara yang membingungkan. Lebih memilih berusaha ala kadarnya ketimbang mengupayakan yang baik. Bahkan, pada bagian-bagian terpenting dalam hidup kita tidak memberikan yang terbaik. Pada akhir perjalanan kita terkejut saat melihat apa yang telah kita lakukan dan menemukan diri kita hidup di dalam sebuah rumah yang kita ciptakan sendiri. Seandainya kita menyadarinya sejak semula kita akan menjalani hidup ini dengan cara yang jauh berbeda.

Renungkan bahwa kita adalah si tukang kayu. Renungkan rumah yang sedang kita bangun. Setiap hari kita memukul paku, memasang papan, mendirikan dinding dan atap. Mari kita selesaikan rumah kita dengan sebaik-baiknya seolah-olah hanya mengerjakannya sekali saja dalam seumur hidup. Biarpun kita hanya hidup satu hari, maka dalam satu hari itu kita pantas untuk hidup penuh keagungan dan kejayaan. Apa yang bisa diterangkan lebih jelas lagi. Hidup kita esok adalah akibat sikap dan pilihan yang kita perbuat hari ini.

Martin Luther King berkata tak ada pekerjaan yang tak berarti. Semua pekerjaan yang mengangkat kemanusiaan itu memiliki martabat dan kepentingan, dan harus dilaksanakan dengan keunggulan yang sungguh-sungguh. Kalau seseorang menjadi penyapu jalan, ia semestinya menyapu seperti Michaelangelo melukis atau Beethoven menggubah musik, atau Shakespeare menulis syair.

“Hidup adalah proyek yang kau kerjakan sendiri”.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.